Pendidikan Karakter - Analisis Pendidikan Karakter Pada Anak Usia Dini - Bag.2

Cafe Skripsi - Berdasarkan sejarah, jika diamati isi dan usia pendidikan karakter sesungguhnya seumur dan selaras dengan adanya pendidikan itu sendiri. Hanya saja terkait dengan istilah yang digunakan, pendidikan karakter hadir pada dekade terakhir di Amerika Serikat (US), didalamnya termasuk yang digunakan di Indonesia beberapa tahun terakhir sampai sekarang. Sebenarnya istilah pendidikan moral lebih populer di Amerika Serikat (US) dan istilah pendidikan karakter lebih popular di kawasan Asia. Sementara itu, di Inggris (UK) orang lebih suka dengan istilah pendidikan nilai.

Sebenarnya di Indonesia telah menggunakan juga istilah pendidikan budi pekerti dan istilah pendidikan moral Pancasila. Sejauh sejarah berlajan di seluruh dunia, pendidikan sesungguhnya memiliki dua tujuan inti, yaitu membantu peradaban manusia agar menjadi cerdas, berkembang dan pandai (smart), juga membantu peradaban manusia agar menjadi lebih baik (good). Menjadikan peradaban manusia dengan karakter yang cerdas, berkembang, dan pandai, boleh jadi atau bisa jadi mudah dalam melakukannya, namun untuk menjadikan manusia agar menjadi lebih baik dan bijaksana dalam kehidupan akan menjadi jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit. Jadi, sangat wajar dan maklum apabila masalah moral merupakan sesuatu yang akut atau penyakit kronis yang setiap saat mengiringi kehidupan manusia kapan pun dan di mana pun.

Krisis moral dan karakter yang melanda pemuda-pemudi maupun siswa saat ini mengindikasikan bahwa pendidikan karakter atau pendidikan budi pekerti yang didalamnya termasuk agama dan moral yang diterima di bangku sekolah (kuliah) tidak memiliki pengaruh terhadap perubahan perilaku. Bahkan saat ini terlihat begitu banyak perilaku manusia yang tidak koheren atau selaras dengan ucapannya sendiri. Kondisi tersebut menjadi praduga awal dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan yang ada.

Demoralisasi atau degradasi moral terjadi ketika proses dan aktivitas pembelajaran cenderung mengajarkan pendidikan moral dan budi pekerti sebatas teks bukan menyiapkan pemuda-pemudi maupun siswa dalam menyikapi dan menghadapi kehidupan dengan segala permasalahannya. Konteks pendidikan formal yang ada di sekolah atau madrasah, boleh jadi salah satu penyebabnya lemahnya pendidikan karakter karena pendidikan di Indonesia lebih menitik fokuskan pada pengembangan intelektual semata, sedangkan aspek pengembangan diri atau non-akademik dianggap sebagai unsur yang tidak diutamakan dan belum diperhatikan.

Pendidikan karakter yang juga disebut pendidikan yang berfokus mengembangkan norma nilai-nilai karakter yang ada pada diri pemuda-pemudi maupun peserta didik sehingga mereka tertanam karakter dan nilai moral sesuai dengan ajaran agama yang dianut maupun budaya daerah, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat dan warga negara yang religius atau beragama dengan baik, nasionalis dengan membela negara serta tidak menjelekkan negara, dan produktif dengan mampu menciptakan hal-hal bermanfaat.

Pendidikan karakter berfungsi sebagai: 1) pengembangan; 2) perbaikan; dan 3) penyaring. Pengembangan karakter diri merupakan pengembangan potensi pemuda-pemudi maupun peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku lebih baik. Perbaikan karakter diri merupakan kekuatan dalam diri pesertas didik untuk memperkuat pendidikan secara nasional dan bertanggung jawab ikut dalam pengembangan potensi yang lebih bermartabat. Penyaring diri merupakan tembok atau jaring dalam rangka menyaring dan menyeleksi budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain serta menentukan mana yang sesuai dan mana tidak sesuai dengan norma nilai maupun karakter bermartabat.